Senin, 18 Mei 2015

REINTERPRESTASI HADIS TENTANG MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN LOGIKA DALAM HADIS TIRMIDZI


A.    Pendahuluan
Menafsirkan al-Qur’an merupakan sesuatu yang terkadang harus dilakukan dengan tujuan untuk memahami makna yang tersembunyi dari suatu ayat al-Qur’an tersebut sehingga tidak menyesatkan orang yang menbacanya, terutama adalah orang awam yang tidak berpendidikan tinggi, sehingga apabila mendapatkan ilmu dia akan menerimanya dengan begitu saja.

Dalam menafsirkan al-Qur’an perlu mendalami dan menguasai semua komponen ilmu yang berkaitan dengan penafsiran al-Qur’an, sehingga tidak seenaknya menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, apalagi ayat-ayat yang berkaitan dengan hokum, yang mana sifat dari hokum itu pasti, jika suatu tersebut dikatakan dalam al-Qur’an haram berarti haram. Maka dari itu tidak boleh seenaknya sendiri dalam menafsirkan al-Qur’an, apalagi hanya mengandalkan ra’yu atau logika saja, tidak boleh.
Akhir-akhir ini dijumpai banyak orang yang menafsirkan al-Qur’an tanpa ilmu tetapi hanya mengandalkan ra’yu atau logika saja, sehingga hasil penafsirannya bukan menjadi penjelas bagi ayat-ayat al-Qur’an tetapi malah menjadi penentang dari ayat al-Qur’an, padahal sudah jelas Rasul melarang untuk menafsirkan al-Qur’an dengan logika atau nalar saja.
Berangkat dari pemaparan diatas, perlunya pembahasan hadits yang berkaitan dengan larangan menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu, sehingga diharapkan dengan pemahaman dari hadits tersebut kita bisa menghindari hal-hal yang merusak hokum agama Islam.Diharapkan dengan penelitian hadits ini kita tidak terjebak dalam pemahaman suatu hadits yang tekstual.



B.     Takhrijul Hadis
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِقَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
(TIRMIDZI - 2874) : Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Assari telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul A'la dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berkata tentang al-Qur'an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.

Berikut adala runtutan sanad/perawi hadis Tirmizi no: 2874 di atas:
 











C.     I’tibar Sanad
Dari pemahaman hadis Tirmidzi di atas kita dilarang menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan ra’yu atau dengan logika saja, karena ditakutkan saat kita menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu saja justru akan menjerumuskan kita sendiri bahkan orang lain.
Sehingga dari hadis tersebut di atas sekiranya kita hendak menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an atau bahkan menjadi penafsir makan hendaknya kita harus mempelajari serta mendalami den memahaminya dengan sepaham-pahamnya tentang pengetahuan yang harus dikuasai untuk bisa menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga nantinya yang ditafsirkan itu sesuai dengan yang dimaksut oleh Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an.
D.    Kritik Historis
Sumber                  :Tirmizi
Bab                        :Yang Menafsirkan al-Qur’an dengan logika
No Hadis               :2874
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Assari telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul A'la dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berkata tentang al-Qur'an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.
Berdasarkan pelacakan yang telah penulis lakukan dengan program lidwa ditemukan hadis pendukung sebagai berikut:
Hadis-hadis penguat
No
Imam
Jumlah
1
Ahmad
16
2
Bukhari
2

TOTAL
18

Berikut adalah keterangan tentang penilaian terhadap rawi hadis:
Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim
Nama Lengkap            : Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim
Kalangan                     : Shahabat
Kuniyah                       : Abu Al 'Abbas
Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
Wafat                          : 68 H
Komentar Ulama:
Ibnu Hajar Al Atsqalani           :Shahabat
Adz Dzahabi                            :Shahabat
Beliau meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak: 706, Muslim sebanyak:   357, Abu Daud sebanyak:      425, Tirmidzi sebanyak: 328, Nasai sebanyak: 498, Ibnu Majah sebanyak: 344, Ahmad sebanyak: 1897, Malik sebanyak: 50, Ad Darimi sebanyak: 243.

Sa'id bin Jubair binHisyamSa'id bin Jubair binHisyam
Nama Lengkap            : Sa'id bin Jubair bin Hisyam
Kalangan                     : Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah                      : Abu Muhammad
Negeri semasa hidup   : Kufah
Wafat                          : 94 H
Komentar Ulama:
Ibnu Hibban                            :Disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Adz Dzahabi                           :Ahadul A'lam
Yahya bin Ma'in                      :Tsiqah
Abu Zur'ah Arrazy                  :Tsiqah
Ibnu Hajar al 'Asqalani           :Tsiqah tsabat Faqih
Beliau meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:147,Muslim sebanyak:     78,Abu Daud sebanyak: 77, Tirmizi sebanyak: 64, Nasai sebanyak:            122, Ibnu Majah sebanyak: 50, Ahmad sebanyak: 349, Malik sebanyak: 4, Ad Darimi sebanyak: 70.

Abdul A'laa bin 'Amir
Nama Lengkap            : Abdul A'laa bin 'Amir
Kalangan                     : Tabi'in (tdk jumpa Shahabat)
Kuniyah                      :
Negeri semasa hidup   : Kufah
Wafat                          :
Komentar Ulama:
Ahmad bin Hambal                 :dla'iful hadits
Abu Zur'ah                              ;dla'iful hadits
Abu Hatim                              :laisa bi qowi
An Nasa'i                                :laisa bi qowi
As Saji                                     :shaduuq tapi punya keragu-raguan
Ibnu Sa'd                                 :dla'if
Ibnu Hajar al 'Asqalani           :shaduuq tapi punya keragu-raguan
Adz Dzahabi                           :layyin
Beliau meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:0, Muslim sebanyak:        0,Abu Daud sebanyak: 3, Tirmizi sebanyak: 10, Nasai sebanyak:            3, Ibnu Majah sebanyak: 4, Ahmad sebanyak: 33, Malik sebanyak: 0, Ad Darimi:            5.

Sufyan bin Sa'id bin Masruq
Nama Lengkap            : Sufyan bin Sa'id bin Masruq
Kalangan                     : Tabi'ut Tabi'in kalangan tua
Kuniyah                      : Abu 'Abdullah
Negeri semasa hidup : Kufah
Wafat                          : 161 H
Komentar Ulama:
Malik bin anas                         :Tsiqah
Yahya bin Ma'in                      :Tsiqah
Ibnu Hibban                            :Termasuk dari para huffad mutqin
Ibnu Hajar al 'Asqalani           :Tsiqah Hafidz Faqih
Ibnu Hajar al 'Asqalani           :Abid
Ibnu Hajar al 'Asqalani           :Imam
Ibnu Hajar al 'Asqalani           :Hujjah
Adz Dzahabi                           :Imam
Beliau meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:353, Muslim sebanyak:    235, Abu Daud sebanyak:      247, Tirmidzi sebanyak: 348, Nasai sebanyak: 315, Ibnu Majah sebanyak: 215, Ahmad sebanyak: 1626, Malik sebanyak: 0, Ad Darimi sebanyak: 274.

Bisyir bin As Sariy bin Al Harits bin 'Umair
Nama Lengkap            : Bisyir bin As Sariy bin Al Harits bin 'Umair
Kalangan                     : Tabi'ut Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah                      : Abu 'Amru
Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
Wafat                          : 195 H
Komentar Ulama:
Yahya bin Ma'in          :Tsiqah
Ibnu Saad                    :Tsiqah
Ad Daruquthni            :Tsiqah
Al 'Uqaili                     :Mustaqimul hadits
Al 'Ajli                                    :Tsiqah
Adz Dzahabi               :Tsiqah
Ibnu Hajar                   :Tsiqah
Ibnu Hibban                :disebutkan dalam 'Ats Tsiqat'
Beliau meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:1, Muslim sebanyak: 6, Abu Daud sebanyak: 2, Tirmizi sebanyak: 10, Nasai sebanyak: 8, Ibnu Majah sebanyak: 1, Ahmad sebanyak: 2, Malik sebanyak: 0, Ad Darimi sebanyak: 0.

Mahmud bin Ghailan
Nama Lengkap            : Mahmud bin Ghailan
Kalangan                     : Tabi'in kalangan pertengahan
Kuniyah                      : Abu Ahmad
Negeri semasa hidup : Baghdad
Wafat                          : 239 H
Komentar Ulama:
An Nasa'i                                :Tsiqah
Ibnu Hibban                            :disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Maslamah bin Qasim               :Tsiqah
Ibnu Hajar al 'Asqalani           :Tsiqah
Adz Dzahabi                           :Hafizh
Beliau meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:47, Muslim sebanyak:      6, Abu Daud sebanyak: 0, Tirmizi sebanyak: 292, Nasai sebanyak:          75,Ibnu Majah sebanyak: 8, Ahmad sebanyak: 1, Malik sebanyak:   0, Ad Darimi sebanyak: 1.
Berikut Adalah Skema Sanad Hadisnya:

                                                                        عن

 

                                                                        عن
 

                                                                        عن
 

                                                            عن        
 









Berikut adalah Biografi Imam Tirmizi
Nama: Muhammad bin 'Isa bin Saurah bin Musa bin adl Dlahhak
Kunyah beliau: Abu 'Isa
Nasab beliau:
As Sulami; yaitu nisbah kepada satu kabilah yang yang di jadikan sebagai afiliasi beliau, dan nisbah ini merupakan nisbah kearaban
At Tirmidzi; nisbah kepada negri tempat beliau di lahirkan (Tirmidz), yaitu satu kota yang terletak di arah selatan dari sungai Jaihun, bagian selatan Iran.

Tanggal lahir: para pakar sejarah tidak menyebutkan tahun kelahiran beliau secara pasti, akan tetapi sebagian yang lain memperkirakan bahwa kelahiran beliau pada tahun 209 hijriah. Sedang Adz Dzahabi berpendapat dalam kisaran tahun 210 hijriah.
 Ada satu berita yang mengatakan bahwa imam At Tirmidzi di lahirkan dalam keadaan buta, padahal berita yang akurat adalah, bahwa beliau mengalami kebutaan di masa tua, setelah mengadakan lawatan ilmiah dan penulisan beliau terhadap ilmu yang beliau miliki.
Beliau tumbuh di daerah Tirmidz, mendengar ilmu di daerah ini sebelum memulai rihlah ilmiah beliau.Dan beliau pernah menceritakan bahwa kakeknya adalah orang marwa, kemudian berpindah dari Marwa menuju ke tirmidz, dengan ini menunjukkan bahwa beliau lahir di Tirmidzi.

Aktifitas beliau dalam menimba ilmu
Berbagai literatur-literatur yang ada tidak menyebutkan dengan pasti kapan imam Tirmidzi memulai mencari ilmu, akan tetapi yang tersirat ketika kita memperhatikan biografi beliau, bahwa beliau memulai aktifitas mencari ilmunya setelah menginjak usia dua puluh tahun. Maka dengan demikian, beliau kehilangan kesempatan untuk mendengar hadits dari sejumlah tokoh-tokoh ulama hadits yang kenamaan, meski tahun periode beliau memungkinkan untuk mendengar hadits dari mereka, tetapi beliau mendengar hadits mereka melalui perantara orang lain. Yang nampak adalah bahwa beliau memulai rihlah pada tahun 234 hijriah.
Beliau memiliki kelebihan; hafalan yang begitu kuat dan otak encer yang cepat menangkap pelajaran. Sebagai permisalan yang dapat menggambarkan kecerdasan dan kekuatan hafalan beliau adalah, satu kisah perjalan beliau meuju Makkah, yaitu;
Pada saat aku dalam perjalanan menuju Makkah, ketika itu aku telah menulis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang syaikh.Kebetulan Syaikh tersebut berpapasan dengan kami.Maka aku bertanya kepadanya, dan saat itu aku mengira bahwa "dua jilid kitab" yang aku tulis itu bersamaku. Tetapi yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang masih putih bersih belum ada tulisannya. aku memohon kepadanya untuk menperdengarkan hadits kepadaku, dan ia mengabulkan permohonanku itu. Kemudian ia membacakan hadits dari lafazhnya kepadaku. Di sela-sela pembacaan itu ia melihat kepadaku dan melihat bahwa kertas yang kupegang putih bersih. Maka dia menegurku: 'Tidakkah engkau malu kepadaku?' maka aku pun memberitahuka kepadanya perkaraku, dan aku berkata; “aku telah mengahafal semuanya." Maka syaikh tersebut berkata; 'bacalah!'. Maka aku pun membacakan kepadanya seluruhnya, tetapi dia tidak mempercayaiku, maka dia bertanya: 'Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?' 'Tidak,' jawabku. Kemudian aku meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits, lalu berkata: 'Coba ulangi apa yang kubacakan tadi,' Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai tanpa salah satu huruf pun."

Rihlah beliau
Imam At Tirmidzi keluar dari negrinya menuju ke Khurasan, Iraq dan Haramain dalam rangka menuntut ilmu. Di sana beliau mendengar ilmu dari kalangan ulama yang beliau temui, sehingga dapat mengumpulkan hadits dan memahaminya. Akan tetapi sangat di sayangkan beliau tidak masuk ke daerah Syam dan Mesir, sehingga hadits-hadits yang beliau riwayatkan dari ulama kalangan Syam dan Mesir harus melalui perantara, kalau sekiranya beliau mengadakan perjalanan ke Syam dan Mesir, niscaya beliau akan mendengar langsung dari ulama-ulama tersebut, seperti Hisyam bin 'Ammar dan semisalnya.
 Para pakar sejarah berbeda pendapat tentang masuknya imam At Tirmidzi ke daerah Baghdad, sehingga mereka berkata; “kalau sekiranya dia masuk ke Baghdad, niscaya dia akan mendengar dari Ahmad bin Hanbal. Al Khathib tidak menyebutkan at Timidzi (masuk ke Baghdad) di dalam tarikhnya, sedangkan Ibnu Nuqthah dan yang lainnya menyebutkan bahwa beliau masuk ke Baghdad. Ibnu Nuqthah menyebutkan bahwasanya beliau pernah mendengar di Baghdad dari beberapa ulama, diantaranya adalah; Al Hasan bin AshShabbah, Ahmad bin Mani' dan Muhammad bin Ishaq Ash shaghani.
Dengan ini bisa di prediksi bahwa beliau masuk ke Baghdad setelah meninggalnya Imam Ahmad bin Hanbal, dan ulama-ulama yang di sebutkan oleh Ibnu Nuqthah meninggal setelah imam Ahmad. Sedangkan pendapat Al Khathib yang tidak menyebutkannya, itu tidak berarti bahwa beliau tidak pernah memasuki kota Baghdad sama sekali, sebab banyak sekali dari kalangan ulama yang tidak di sebutkan Al Khathib di dalam tarikhnya, padahal mereka memasuki Baghdad.
Setelah pengembaraannya, imam At Tirmidzi kembali ke negrinya, kemudian beliau masuk Bukhara dan Naisapur, dan beliau tinggal di Bukhara beberapa saat.

Negri-negri yang pernah beliau masuki adalah;
·         Khurasan
·         Bashrah
·         Kufah
·         Wasith
·         Baghdad
·         Makkah
·         Madinah
·         Ar Ray

Guru-guru beliau
Imam at Tirmidzi menuntut ilmu dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. Di antara mereka adalah:
v  Qutaibah bin Sa'id
v  Ishaq bin Rahuyah
v  Muhammad bin 'Amru As Sawwaq al Balkhi
v  Mahmud bin Ghailan
v  Isma'il bin Musa al Fazari
v  Ahmad bin Mani'
v  Abu Mush'ab Az Zuhri
v  Basyr bin Mu'adz al Aqadi
v  Al Hasan bin Ahmad bin Abi Syu'aib
v  Abi 'Ammar Al Husain bin Harits
v  Abdullah bin Mu'awiyyah al Jumahi
v  'Abdul Jabbar bin al 'Ala`
v  Abu Kuraib
v  'Ali bin Hujr
v  'Ali bin sa'id bin Masruq al Kindi
v  'Amru bin 'Ali al Fallas
v  'Imran bin Musa al Qazzaz
v  Muhammad bin aban al Mustamli
v  Muhammad bin Humaid Ar Razi
v  Muhammad bin 'Abdul A'la
v  Muhammad bin Rafi'
v  Imam Bukhari
v  Imam Muslim
v  Abu Dawud
v  Muhammad bin Yahya al 'Adani
v  Hannad bin as Sari
v  Yahya bin Aktsum
v  Yahya bun Hubaib
v  Muhammad bin 'Abdul Malik bin Abi Asy Syawarib
v  Suwaid bin Nashr al Marwazi
v  Ishaq bin Musa Al Khathami
v  Harun al Hammal.

Murid-murid beliau
Kumpulan hadits dan ilmu-ilmu yang di miliki imam Tirmidzi banyak yang meriwayatkan, diantaranya adalah:
v  Abu Bakr Ahmad bin Isma'il As Samarqandi
v  Abu Hamid Abdullah bin Daud Al Marwazi
v  Ahmad bin 'Ali bin Hasnuyah al Muqri`
v  Ahmad bin Yusuf An Nasafi
v  Ahmad bin Hamduyah an Nasafi
v  Al Husain bin Yusuf Al Farabri
v  Hammad bin Syair Al Warraq
v  Daud bin Nashr bin Suhail Al Bazdawi
v  Ar Rabi' bin Hayyan Al Bahili
v  Abdullah bin Nashr saudara Al Bazdawi
v  'Abd bin Muhammad bin Mahmud An Safi
v  'Ali bin 'Umar bin Kultsum as Samarqandi
v  Al Fadhl bin 'Ammar Ash Sharram
v  Abu al 'Abbas Muhammad bin Ahmad bin Mahbub
v  Abu Ja'far Muhammad bin Ahmad An Nasafi
v  Abu Ja'far Muhammad bin sufyan bin An Nadlr An Nasafi al Amin
v  Muhammad bin Muhammad bin Yahya Al Harawi al Qirab
v  Muhammad bin Mahmud bin 'Ambar An Nasafi
v  Muhammad bin Makki bin Nuh An Nasafai
v  Musbih bin Abi Musa Al Kajiri
v  Makhul bin al Fadhl An Nasafi
v  Makki bin Nuh
v  Nashr bin Muhammad bi Sabrah
v  Al Haitsam bin Kulaib



Persaksian para ulama terhadap beliau
Persaksian para ulama terhadap keilmuan dan kecerdasan imam Tirmidzi sangatlah banyak, diantaranya adalah:

o   Imam Bukhari berkata kepada imam At Tirmidzi; Ilmu yang aku ambil manfaatnya darimu itu lebih banyak ketimbang ilmu yang engkau ambil manfaatnya dariku."
o   Al Hafiz 'Umar bin 'Alak menuturkan; Bukhari meninggal, dan dia tidak meninggalkan di Khurasan orang yang seperti Abu 'Isa dalam hal ilmu, hafalan, wara' dan zuhud."
o   Ibnu Hibban menuturkan; Abu 'Isa adalah sosok ulama yang mengumpulkan hadits, membukukan, menghafal dan mengadakan diskusi dalam hal hadits."
o   Abu Ya'la al Khalili menuturkan; Muhammad bin 'Isa at Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah menurut kesepatan para ulama, terkenal dengan amanah dandan keilmuannya.
o   Abu Sa'd al Idrisi menuturkan; Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang di ikuti dalam hal ilmu hadits, beliau telah menyusun kitab al jami', tarikh dan 'ilal dengan cara yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang alim yang kapabel. Beliau adalah seorang ulama yang menjadi contoh dalam hal hafalan."
o   Al Mubarak bin al Atsram menuturkan; Imam Tirmidzi merupakan salah seorang imam hafizh dan tokoh."
o   Al Hafizh al Mizzi menuturkan; Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang menonjol, dan termasuk orang yang Allah jadikan kaum muslimin mengambil manfaat darinya.
o   Adz Dzahabi menuturkan; Imam Tirmidzi adalah seorang hafizh, alim, imam yang kapabel
o   Ibnu Katsir menuturkan: Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam dalam bidangnya pada zaman beliau."

Wafatnya beliau:
Di akhir kehidupannya, Imam at Tirmidzi mengalami kebutaan, beberapa tahun beliau hidup sebagai tuna netra, setelah itu imam atTirmidzi meninggal dunia. Beliau wafat di Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H bertepatan dengan 8 Oktober 892, dalam usia beliau pada saat itu 70 tahun.




E.     Kajian Linguistik
Kaian Linguistik adalah kaian dengan penggunaan prosedur-prosedur gramatikal bahasa arab. Kaian seperti ini sangat diperlukan karena setiap teks hadis harus ditafsirkan dalam bahasa aslinya.
Barangsiapa
مَنْ
Mubtada’
Berkata
قَالَ
Fiil madhi
tentang al-Qur'an
فِي الْقُرْآنِ
Jar majrur
TanpaIlmu
بِغَيْرِ عِلْمٍ
Jar majrur
maka bersiap-siaplahmenempati
فَلْيَتَبَوَّأْ
Khabar / jawab syatat
Tempatnya
مَقْعَدَهُ
Maul bih
di neraka
مِنْ النَّارِ
Jar majrur
قَالَMemiliki arti dasar berkata, namun dalam hadis ini diartikan dengan arti menasirkan, karena jika orang menyampaikan ayat al Qur’an dengan tanpa pengetahuan hanya sekedarnya saja tidak menjadi masalah, namun jika seseorang menafsirkan al Qur’an hanya sekemampuannya yang tidak didasari dengan pengetahuan yang mendalam maka akan berbahaya.
Taka “بِغَيْرِ عِلْمٍ” pada hadis di atas merupakan larangan yang keras, bukan hanya larangam yang biasa, karena orang yang dikatakan berilmu yang boleh menafsirkan al-Qur’an diantaranya menguasai beberapa ilmu:
1.      ilmu ilmu alat seperti nahwu,sharrof,balaghah.
2.      ushulul qur'an.
3.      ushulul figh.
4.      qawaidul figh.
5.      mushthalah hadits dll.

F.     Kajian Tematis Komprehensif
Kajian tematis komprehensi adalah kajian hadis dengan mempertimbangkan teks-teks hadis lain yang memiliki tema yang relevan dengan tema hadis yang bersangkutan dalam rangkan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.
(Bukhori no:98) terdapat  hadis
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ
(muslim no: 4828 ) terdapat 2 hadis
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا عَبَّادُ بْنُ عَبَّادٍ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو أُسَامَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ وَعَبْدَةُ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ ح و حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ جَرِيرٍ وَزَادَ فِي حَدِيثِ عُمَرَ بْنِ عَلِيٍّ ثُمَّ لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ فَسَأَلْتُهُ فَرَدَّ عَلَيْنَا الْحَدِيثَ كَمَا حَدَّثَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُمْرَانَ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي أَبِي جَعْفَرٌ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ
(Abu Daud no: 3172) hanya ada satu
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ يَعْنِي ابْنَ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَفْتَى ح و حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي نُعَيْمَةَ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ الطُّنْبُذِيِّ رَضِيعِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ زَادَ سُلَيْمَانُ الْمَهْرِيُّ فِي حَدِيثِهِ وَمَنْ أَشَارَ عَلَى أَخِيهِ بِأَمْرٍ يَعْلَمُ أَنَّ الرُّشْدَ فِي غَيْرِهِ فَقَدْ خَانَهُ وَهَذَا لَفْظُ سُلَيْمَانَ


G.    Kajian Konfirmatif
Kajian konfirmatif adalah mengkonfirmasikan makna hadis dengan petunjuk-petunjuk al-Qur’an sebagai sumber tertinggi.Belom ditemukan untuk mengkonfirmatikan terhadap al Qur’an.
Dari pencarian penulis tentang ayat-ayat Al-Qur’anyang membahas tentang menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu, diantaranya adalah:
Surat Ali Imran ayat: 7
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
Artinya
“Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu.Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa)
Ayat di atas menegaskan bahwa kita dilarang untuk menafsirkan al-Qur’an, dikarenakan hanya Allah yang mengetahui takwil tentang al-Qur’an tersebut, hanya orang-orang yang menginginkan timbulnya fitnah dimana-mana yang menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan tanpa didasari oleh ilmu melainkan hanya dengan ra’yu saja.
Sehingga hanya orang-orang yang mendalam ilmunya yang diperkenankan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qura’an agar dapat mengambil pelajaran darinya, sehingga semakin memantapkan keimanannya kepada Allah.

H.    Analisis Realitas Historis
Dalam tahap ini makna atau arti suatu pernyataan dipahami dengan melakukan kaian atas realitas, situasi atau problem historis dimana pernyataan sebuah hadis muncul, baik dalam situasi mikro maupun makro (Asbab al-Wurud mikro atau Asbab al-Wurud makro).
Asbabul wurud makro:
            Setelah penulis telusuri dari berbagai web dan buku, penulis tidak menemukan sebab mengapa Nabi mengeluarkan hadis tersebut.
Asbabul wurud makro:
            Setelah melakukan pencarian dari berbagai web dan buku penulis juga tidak mendapatkan realita yang terjadi pada saat Nabi mengeluarkan hadis tentang larangan menafsirkan dengan ayat tersebut.
I.       Kritik Praksis
Kritik Praksis adalah mengaitkan makna hadis ke dalam realitas kehidupan kekinian, sehingga memiliki makna praksis bagi problematika hukum dan kemasyarakatan kekinian.
Terkadang orang karena sudah terlanjur dianggap bisa sehingga berani menafsirkan ayat al Qur’an dengan kemampuannya sendiri tanpa landasan pengetahuan tentang ilmu-ilmu atau pengetahuan yang harus dikuasai untuk bisa menafsirkan al Qur’an, jika hanya sekedar menyampaikan tentang isi al Qur’an tidak mengapa, namun jika menafsirkan dengan tanpa landasan yang tidak boleh bahkan dilarang dengan ancaman neraka bagi pelakunya.
Seperti halnya yang pernah terjadi di daerah kulon progo, seseorang yang telah dianggap kyai oleh masyarakat sekitarnya, disetiap kali dia menyampaikan materi atau bahkan khutbah jum’at, dia dengan beraninya dengan tenangnya menyampaikan sebuah ayat al-Qur’an dan hadis yang dia tafsirkan sendiri tanpa ada landasan ilmu sama sekali, hanya sekedar kemampuan akalnya saja, padahal akal manusia itu memiliki kemampuan yang terbatas.
Dan setiap kali memberikan argumen selalu mengatakan kalau dia pernah membacanya di dalam sebuah buku, namun masalahnya adalah setiap ada yang mau meminjam bukunya untuk membuktikan apa yang dia katakan benar adanya, ada saja alasannya untuk menghindar sehingga tidak ada orang yang dapat meminjam bukunya tersebut.
Terkahir yang dia tafsirkan adalah masalah shalat umat, sehingga membuatnya melakukan shalat jum’at di rumahnya dengan murid ngajinya dan anak istrinya, padahal masjid itu dekat adanya dan kurang jama’ahnya.
Hal seperti ini lah yang membahayakan umat, yang akan menjerumuskan orang-orang yang ada disekitarnya dikarenakan dia menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an bukan untuk memberikan pemahaman kepada orang yang masih awam tapi justru malah menjerumuskannya.



J.      Kesimpulan
Ø  Kualitas sanad hadis
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi tersebut di atas merupakan hadis yang berkualitas hasan sohih dari segi sanad hadisnya, sehingga hadis di atas bisa digunakan untuk landasan dalam pelarangan kepada manusia untuk tidak menafsirkan hadis dengan tanpa ilmu yang mendasarinya.
Ø  Pemahaman hadis
Dari hadis di yang tersebut di atas dapat dipahami bahwa menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an itu boleh, akan tetapi dengan syarat, dalam menafsirkan ayat Qur’an itu didasari oleh ilmu pengetahuan yang harus dikuasainya seperti halnya ilmu-ilmu alat dan lain sebagainya. Karena jika menafsirkan al-Qur’an tanpa didasari ilmu pengetahuan maka hasilnya hanya akan menimbulkan fitnah dimana-mana.





Daftar Pustaka
Sofwel kitab sembilan Imam/Lidwa
AlQur’an dan terjemahnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar