A.
Pendahuluan
Menafsirkan al-Qur’an merupakan sesuatu yang terkadang harus
dilakukan dengan tujuan untuk memahami makna yang tersembunyi dari suatu ayat
al-Qur’an tersebut sehingga tidak menyesatkan orang yang menbacanya, terutama
adalah orang awam yang tidak berpendidikan tinggi, sehingga apabila mendapatkan
ilmu dia akan menerimanya dengan begitu saja.
Dalam menafsirkan al-Qur’an perlu mendalami dan menguasai semua
komponen ilmu yang berkaitan dengan penafsiran al-Qur’an, sehingga tidak
seenaknya menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, apalagi ayat-ayat yang berkaitan
dengan hokum, yang mana sifat dari hokum itu pasti, jika suatu tersebut
dikatakan dalam al-Qur’an haram berarti haram. Maka dari itu tidak boleh
seenaknya sendiri dalam menafsirkan al-Qur’an, apalagi hanya mengandalkan ra’yu
atau logika saja, tidak boleh.
Akhir-akhir ini dijumpai banyak orang yang menafsirkan al-Qur’an
tanpa ilmu tetapi hanya mengandalkan ra’yu atau logika saja, sehingga hasil
penafsirannya bukan menjadi penjelas bagi ayat-ayat al-Qur’an tetapi malah
menjadi penentang dari ayat al-Qur’an, padahal sudah jelas Rasul melarang untuk
menafsirkan al-Qur’an dengan logika atau nalar saja.
Berangkat dari pemaparan diatas, perlunya pembahasan hadits yang
berkaitan dengan larangan menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu, sehingga
diharapkan dengan pemahaman dari hadits tersebut kita bisa menghindari hal-hal
yang merusak hokum agama Islam.Diharapkan dengan penelitian hadits ini kita
tidak terjebak dalam pemahaman suatu hadits yang tekstual.
B.
Takhrijul Hadis
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي
الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِقَالَ أَبُو
عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
(TIRMIDZI
- 2874) : Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan
kepada kami Bisyr bin Assari telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul A'la dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas
radliallahu 'anhuma, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Barangsiapa berkata tentang al-Qur'an tanpa ilmu, maka
bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka." Abu Isa berkata; Hadits
ini hasan shahih.
Berikut
adala runtutan sanad/perawi hadis Tirmizi no: 2874 di atas:
![]() |
C.
I’tibar Sanad
Dari pemahaman hadis Tirmidzi di atas kita dilarang menafsirkan
ayat-ayat al-Qur’an dengan ra’yu atau dengan logika saja, karena ditakutkan
saat kita menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu saja justru akan menjerumuskan
kita sendiri bahkan orang lain.
Sehingga dari hadis tersebut di atas sekiranya kita hendak
menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an atau bahkan menjadi penafsir makan hendaknya
kita harus mempelajari serta mendalami den memahaminya dengan sepaham-pahamnya
tentang pengetahuan yang harus dikuasai untuk bisa menafsirkan ayat-ayat
al-Qur’an, sehingga nantinya yang ditafsirkan itu sesuai dengan yang dimaksut
oleh Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an.
D.
Kritik Historis
Sumber :Tirmizi
Bab :Yang
Menafsirkan al-Qur’an dengan logika
No Hadis :2874
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي
الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو
عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Telah
menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami
Bisyr bin Assari telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdul A'la dari
Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berkata tentang
al-Qur'an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka."
Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.
Berdasarkan pelacakan yang telah
penulis lakukan dengan program lidwa ditemukan hadis pendukung sebagai berikut:
|
Hadis-hadis
penguat
|
||
|
No
|
Imam
|
Jumlah
|
|
1
|
Ahmad
|
16
|
|
2
|
Bukhari
|
2
|
|
|
TOTAL
|
18
|
Berikut adalah keterangan tentang penilaian terhadap rawi hadis:
Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul
Muthallib bin Hasyim
Nama Lengkap : Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu Al 'Abbas
Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
Wafat : 68 H
Komentar Ulama:
Ibnu Hajar Al Atsqalani :Shahabat
Adz Dzahabi :Shahabat
Beliau
meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak: 706, Muslim sebanyak: 357, Abu Daud sebanyak: 425, Tirmidzi sebanyak: 328, Nasai
sebanyak: 498, Ibnu Majah sebanyak: 344, Ahmad sebanyak: 1897, Malik sebanyak:
50, Ad Darimi sebanyak: 243.
Sa'id bin Jubair binHisyamSa'id bin
Jubair binHisyam
Nama
Lengkap : Sa'id bin Jubair bin
Hisyam
Kalangan
: Tabi'in kalangan
pertengahan
Kuniyah
: Abu Muhammad
Negeri
semasa hidup : Kufah
Wafat
: 94 H
Komentar
Ulama:
Ibnu
Hibban :Disebutkan
dalam 'ats tsiqaat
Adz
Dzahabi :Ahadul
A'lam
Yahya
bin Ma'in :Tsiqah
Abu
Zur'ah Arrazy :Tsiqah
Ibnu
Hajar al 'Asqalani :Tsiqah
tsabat Faqih
Beliau
meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:147,Muslim sebanyak: 78,Abu Daud sebanyak: 77, Tirmizi sebanyak:
64, Nasai sebanyak: 122, Ibnu
Majah sebanyak: 50, Ahmad sebanyak: 349, Malik sebanyak: 4, Ad Darimi sebanyak:
70.
Abdul
A'laa bin 'Amir
Nama
Lengkap : Abdul A'laa bin 'Amir
Kalangan
: Tabi'in (tdk jumpa
Shahabat)
Kuniyah
:
Negeri
semasa hidup : Kufah
Wafat
:
Komentar
Ulama:
Ahmad
bin Hambal :dla'iful hadits
Abu
Zur'ah ;dla'iful hadits
Abu
Hatim :laisa bi qowi
An
Nasa'i :laisa bi qowi
As
Saji :shaduuq tapi punya keragu-raguan
Ibnu
Sa'd :dla'if
Ibnu
Hajar al 'Asqalani :shaduuq tapi
punya keragu-raguan
Adz
Dzahabi :layyin
Beliau meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:0, Muslim
sebanyak: 0,Abu Daud sebanyak: 3,
Tirmizi sebanyak: 10, Nasai sebanyak: 3,
Ibnu Majah sebanyak: 4, Ahmad sebanyak: 33, Malik sebanyak: 0, Ad Darimi: 5.
Sufyan
bin Sa'id bin Masruq
Nama
Lengkap : Sufyan bin Sa'id bin
Masruq
Kalangan
: Tabi'ut Tabi'in
kalangan tua
Kuniyah
: Abu 'Abdullah
Negeri
semasa hidup : Kufah
Wafat
: 161 H
Komentar
Ulama:
Malik
bin anas :Tsiqah
Yahya
bin Ma'in :Tsiqah
Ibnu
Hibban :Termasuk
dari para huffad mutqin
Ibnu
Hajar al 'Asqalani :Tsiqah
Hafidz Faqih
Ibnu
Hajar al 'Asqalani :Abid
Ibnu
Hajar al 'Asqalani :Imam
Ibnu
Hajar al 'Asqalani :Hujjah
Adz
Dzahabi :Imam
Beliau
meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:353, Muslim sebanyak: 235, Abu Daud sebanyak: 247, Tirmidzi sebanyak: 348, Nasai
sebanyak: 315, Ibnu Majah sebanyak: 215, Ahmad sebanyak: 1626, Malik sebanyak: 0,
Ad Darimi sebanyak: 274.
Bisyir
bin As Sariy bin Al Harits bin 'Umair
Nama
Lengkap : Bisyir bin As Sariy
bin Al Harits bin 'Umair
Kalangan
: Tabi'ut Tabi'in
kalangan biasa
Kuniyah
: Abu 'Amru
Negeri
semasa hidup : Marur Rawdz
Wafat
: 195 H
Komentar
Ulama:
Yahya
bin Ma'in :Tsiqah
Ibnu
Saad :Tsiqah
Ad
Daruquthni :Tsiqah
Al
'Uqaili :Mustaqimul hadits
Al
'Ajli :Tsiqah
Adz
Dzahabi :Tsiqah
Ibnu
Hajar :Tsiqah
Ibnu
Hibban :disebutkan
dalam 'Ats Tsiqat'
Beliau
meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:1, Muslim sebanyak: 6, Abu Daud
sebanyak: 2, Tirmizi sebanyak: 10, Nasai sebanyak: 8, Ibnu Majah sebanyak: 1,
Ahmad sebanyak: 2, Malik sebanyak: 0, Ad Darimi sebanyak: 0.
Mahmud
bin Ghailan
Nama
Lengkap : Mahmud bin Ghailan
Kalangan
: Tabi'in kalangan
pertengahan
Kuniyah
: Abu Ahmad
Negeri
semasa hidup : Baghdad
Wafat
: 239 H
Komentar
Ulama:
An
Nasa'i :Tsiqah
Ibnu
Hibban :disebutkan
dalam 'ats tsiqaat
Maslamah
bin Qasim :Tsiqah
Ibnu
Hajar al 'Asqalani :Tsiqah
Adz
Dzahabi :Hafizh
Beliau
meriwayatkan hadisnya Bukhari sebanyak:47, Muslim sebanyak: 6, Abu Daud sebanyak: 0, Tirmizi sebanyak: 292,
Nasai sebanyak: 75,Ibnu Majah
sebanyak: 8, Ahmad sebanyak: 1, Malik sebanyak: 0, Ad Darimi sebanyak: 1.
Berikut
Adalah Skema Sanad Hadisnya:
عن
عن
عن
![]() |
|||
عن
![]() |
|||
Berikut
adalah Biografi Imam Tirmizi
Nama:
Muhammad bin 'Isa bin Saurah bin Musa bin adl Dlahhak
Kunyah
beliau: Abu 'Isa
Nasab
beliau:
As
Sulami; yaitu nisbah kepada satu kabilah yang yang di jadikan sebagai afiliasi
beliau, dan nisbah ini merupakan nisbah kearaban
At
Tirmidzi; nisbah kepada negri tempat beliau di lahirkan (Tirmidz), yaitu satu
kota yang terletak di arah selatan dari sungai Jaihun, bagian selatan Iran.
Tanggal
lahir: para pakar sejarah tidak menyebutkan tahun kelahiran beliau secara
pasti, akan tetapi sebagian yang lain memperkirakan bahwa kelahiran beliau pada
tahun 209 hijriah. Sedang Adz Dzahabi berpendapat dalam kisaran tahun 210
hijriah.
Ada satu berita yang mengatakan bahwa imam At
Tirmidzi di lahirkan dalam keadaan buta, padahal berita yang akurat adalah,
bahwa beliau mengalami kebutaan di masa tua, setelah mengadakan lawatan ilmiah
dan penulisan beliau terhadap ilmu yang beliau miliki.
Beliau
tumbuh di daerah Tirmidz, mendengar ilmu di daerah ini sebelum memulai rihlah
ilmiah beliau.Dan beliau pernah menceritakan bahwa kakeknya adalah orang marwa,
kemudian berpindah dari Marwa menuju ke tirmidz, dengan ini menunjukkan bahwa
beliau lahir di Tirmidzi.
Aktifitas
beliau dalam menimba ilmu
Berbagai
literatur-literatur yang ada tidak menyebutkan dengan pasti kapan imam Tirmidzi
memulai mencari ilmu, akan tetapi yang tersirat ketika kita memperhatikan
biografi beliau, bahwa beliau memulai aktifitas mencari ilmunya setelah
menginjak usia dua puluh tahun. Maka dengan demikian, beliau kehilangan
kesempatan untuk mendengar hadits dari sejumlah tokoh-tokoh ulama hadits yang
kenamaan, meski tahun periode beliau memungkinkan untuk mendengar hadits dari
mereka, tetapi beliau mendengar hadits mereka melalui perantara orang lain.
Yang nampak adalah bahwa beliau memulai rihlah pada tahun 234 hijriah.
Beliau
memiliki kelebihan; hafalan yang begitu kuat dan otak encer yang cepat
menangkap pelajaran. Sebagai permisalan yang dapat menggambarkan kecerdasan dan
kekuatan hafalan beliau adalah, satu kisah perjalan beliau meuju Makkah, yaitu;
Pada
saat aku dalam perjalanan menuju Makkah, ketika itu aku telah menulis dua jilid
berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang syaikh.Kebetulan Syaikh tersebut
berpapasan dengan kami.Maka aku bertanya kepadanya, dan saat itu aku mengira
bahwa "dua jilid kitab" yang aku tulis itu bersamaku. Tetapi yang
kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang masih putih
bersih belum ada tulisannya. aku memohon kepadanya untuk menperdengarkan hadits
kepadaku, dan ia mengabulkan permohonanku itu. Kemudian ia membacakan hadits dari
lafazhnya kepadaku. Di sela-sela pembacaan itu ia melihat kepadaku dan melihat
bahwa kertas yang kupegang putih bersih. Maka dia menegurku: 'Tidakkah engkau
malu kepadaku?' maka aku pun memberitahuka kepadanya perkaraku, dan aku
berkata; “aku telah mengahafal semuanya." Maka syaikh tersebut berkata;
'bacalah!'. Maka aku pun membacakan kepadanya seluruhnya, tetapi dia tidak
mempercayaiku, maka dia bertanya: 'Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang
kepadaku?' 'Tidak,' jawabku. Kemudian aku meminta lagi agar dia meriwayatkan
hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits, lalu
berkata: 'Coba ulangi apa yang kubacakan tadi,' Lalu aku membacakannya dari
pertama sampai selesai tanpa salah satu huruf pun."
Rihlah
beliau
Imam
At Tirmidzi keluar dari negrinya menuju ke Khurasan, Iraq dan Haramain dalam
rangka menuntut ilmu. Di sana beliau mendengar ilmu dari kalangan ulama yang
beliau temui, sehingga dapat mengumpulkan hadits dan memahaminya. Akan tetapi
sangat di sayangkan beliau tidak masuk ke daerah Syam dan Mesir, sehingga
hadits-hadits yang beliau riwayatkan dari ulama kalangan Syam dan Mesir harus
melalui perantara, kalau sekiranya beliau mengadakan perjalanan ke Syam dan
Mesir, niscaya beliau akan mendengar langsung dari ulama-ulama tersebut,
seperti Hisyam bin 'Ammar dan semisalnya.
Para pakar sejarah berbeda pendapat tentang
masuknya imam At Tirmidzi ke daerah Baghdad, sehingga mereka berkata; “kalau
sekiranya dia masuk ke Baghdad, niscaya dia akan mendengar dari Ahmad bin Hanbal.
Al Khathib tidak menyebutkan at Timidzi (masuk ke Baghdad) di dalam tarikhnya,
sedangkan Ibnu Nuqthah dan yang lainnya menyebutkan bahwa beliau masuk ke
Baghdad. Ibnu Nuqthah menyebutkan bahwasanya beliau pernah mendengar di Baghdad
dari beberapa ulama, diantaranya adalah; Al Hasan bin AshShabbah, Ahmad bin
Mani' dan Muhammad bin Ishaq Ash shaghani.
Dengan
ini bisa di prediksi bahwa beliau masuk ke Baghdad setelah meninggalnya Imam
Ahmad bin Hanbal, dan ulama-ulama yang di sebutkan oleh Ibnu Nuqthah meninggal
setelah imam Ahmad. Sedangkan pendapat Al Khathib yang tidak menyebutkannya,
itu tidak berarti bahwa beliau tidak pernah memasuki kota Baghdad sama sekali,
sebab banyak sekali dari kalangan ulama yang tidak di sebutkan Al Khathib di
dalam tarikhnya, padahal mereka memasuki Baghdad.
Setelah
pengembaraannya, imam At Tirmidzi kembali ke negrinya, kemudian beliau masuk
Bukhara dan Naisapur, dan beliau tinggal di Bukhara beberapa saat.
Negri-negri
yang pernah beliau masuki adalah;
·
Khurasan
·
Bashrah
·
Kufah
·
Wasith
·
Baghdad
·
Makkah
·
Madinah
·
Ar
Ray
Guru-guru
beliau
Imam
at Tirmidzi menuntut ilmu dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. Di
antara mereka adalah:
v Qutaibah bin Sa'id
v Ishaq bin Rahuyah
v Muhammad bin 'Amru As Sawwaq al Balkhi
v Mahmud bin Ghailan
v Isma'il bin Musa al Fazari
v Ahmad bin Mani'
v Abu Mush'ab Az Zuhri
v Basyr bin Mu'adz al Aqadi
v Al Hasan bin Ahmad bin Abi Syu'aib
v Abi 'Ammar Al Husain bin Harits
v Abdullah bin Mu'awiyyah al Jumahi
v 'Abdul Jabbar bin al 'Ala`
v Abu Kuraib
v 'Ali bin Hujr
v 'Ali bin sa'id bin Masruq al Kindi
v 'Amru bin 'Ali al Fallas
v 'Imran bin Musa al Qazzaz
v Muhammad bin aban al Mustamli
v Muhammad bin Humaid Ar Razi
v Muhammad bin 'Abdul A'la
v Muhammad bin Rafi'
v Imam Bukhari
v Imam Muslim
v Abu Dawud
v Muhammad bin Yahya al 'Adani
v Hannad bin as Sari
v Yahya bin Aktsum
v Yahya bun Hubaib
v Muhammad bin 'Abdul Malik bin Abi Asy
Syawarib
v Suwaid bin Nashr al Marwazi
v Ishaq bin Musa Al Khathami
v Harun al Hammal.
Murid-murid
beliau
Kumpulan
hadits dan ilmu-ilmu yang di miliki imam Tirmidzi banyak yang meriwayatkan,
diantaranya adalah:
v Abu Bakr Ahmad bin Isma'il As Samarqandi
v Abu Hamid Abdullah bin Daud Al Marwazi
v Ahmad bin 'Ali bin Hasnuyah al Muqri`
v Ahmad bin Yusuf An Nasafi
v Ahmad bin Hamduyah an Nasafi
v Al Husain bin Yusuf Al Farabri
v Hammad bin Syair Al Warraq
v Daud bin Nashr bin Suhail Al Bazdawi
v Ar Rabi' bin Hayyan Al Bahili
v Abdullah bin Nashr saudara Al Bazdawi
v 'Abd bin Muhammad bin Mahmud An Safi
v 'Ali bin 'Umar bin Kultsum as Samarqandi
v Al Fadhl bin 'Ammar Ash Sharram
v Abu al 'Abbas Muhammad bin Ahmad bin
Mahbub
v Abu Ja'far Muhammad bin Ahmad An Nasafi
v Abu Ja'far Muhammad bin sufyan bin An
Nadlr An Nasafi al Amin
v Muhammad bin Muhammad bin Yahya Al
Harawi al Qirab
v Muhammad bin Mahmud bin 'Ambar An Nasafi
v Muhammad bin Makki bin Nuh An Nasafai
v Musbih bin Abi Musa Al Kajiri
v Makhul bin al Fadhl An Nasafi
v Makki bin Nuh
v Nashr bin Muhammad bi Sabrah
v Al Haitsam bin Kulaib
Persaksian
para ulama terhadap beliau
Persaksian
para ulama terhadap keilmuan dan kecerdasan imam Tirmidzi sangatlah banyak, diantaranya
adalah:
o Imam Bukhari berkata kepada imam At
Tirmidzi; Ilmu yang aku ambil manfaatnya darimu itu lebih banyak ketimbang ilmu
yang engkau ambil manfaatnya dariku."
o Al Hafiz 'Umar bin 'Alak menuturkan;
Bukhari meninggal, dan dia tidak meninggalkan di Khurasan orang yang seperti
Abu 'Isa dalam hal ilmu, hafalan, wara' dan zuhud."
o Ibnu Hibban menuturkan; Abu 'Isa adalah
sosok ulama yang mengumpulkan hadits, membukukan, menghafal dan mengadakan
diskusi dalam hal hadits."
o Abu Ya'la al Khalili menuturkan;
Muhammad bin 'Isa at Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah menurut kesepatan para
ulama, terkenal dengan amanah dandan keilmuannya.
o Abu Sa'd al Idrisi menuturkan; Imam
Tirmidzi adalah salah seorang imam yang di ikuti dalam hal ilmu hadits, beliau
telah menyusun kitab al jami', tarikh dan 'ilal dengan cara yang menunjukkan
bahwa dirinya adalah seorang alim yang kapabel. Beliau adalah seorang ulama
yang menjadi contoh dalam hal hafalan."
o Al Mubarak bin al Atsram menuturkan;
Imam Tirmidzi merupakan salah seorang imam hafizh dan tokoh."
o Al Hafizh al Mizzi menuturkan; Imam
Tirmidzi adalah salah seorang imam yang menonjol, dan termasuk orang yang Allah
jadikan kaum muslimin mengambil manfaat darinya.
o Adz Dzahabi menuturkan; Imam Tirmidzi
adalah seorang hafizh, alim, imam yang kapabel
o Ibnu Katsir menuturkan: Imam Tirmidzi
adalah salah seorang imam dalam bidangnya pada zaman beliau."
Wafatnya
beliau:
Di
akhir kehidupannya, Imam at Tirmidzi mengalami kebutaan, beberapa tahun beliau
hidup sebagai tuna netra, setelah itu imam atTirmidzi meninggal dunia. Beliau
wafat di Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H bertepatan dengan 8
Oktober 892, dalam usia beliau pada saat itu 70 tahun.
E. Kajian Linguistik
Kaian
Linguistik adalah kaian dengan penggunaan prosedur-prosedur gramatikal bahasa
arab. Kaian seperti ini sangat diperlukan karena setiap teks hadis harus
ditafsirkan dalam bahasa aslinya.
|
Barangsiapa
|
مَنْ
|
Mubtada’
|
|
Berkata
|
قَالَ
|
Fiil madhi
|
|
tentang al-Qur'an
|
فِي الْقُرْآنِ
|
Jar majrur
|
|
TanpaIlmu
|
بِغَيْرِ عِلْمٍ
|
Jar majrur
|
|
maka bersiap-siaplahmenempati
|
فَلْيَتَبَوَّأْ
|
Khabar / jawab syatat
|
|
Tempatnya
|
مَقْعَدَهُ
|
Maul bih
|
|
di neraka
|
مِنْ النَّارِ
|
Jar majrur
|
” قَالَ”Memiliki
arti dasar berkata, namun dalam hadis ini diartikan dengan arti menasirkan,
karena jika orang menyampaikan ayat al Qur’an dengan tanpa pengetahuan hanya
sekedarnya saja tidak menjadi masalah, namun jika seseorang menafsirkan al
Qur’an hanya sekemampuannya yang tidak didasari dengan pengetahuan yang
mendalam maka akan berbahaya.
Taka
“بِغَيْرِ
عِلْمٍ”
pada hadis di atas merupakan larangan yang keras, bukan hanya larangam yang
biasa, karena orang yang dikatakan berilmu yang boleh menafsirkan al-Qur’an
diantaranya menguasai beberapa ilmu:
1. ilmu
ilmu alat seperti nahwu,sharrof,balaghah.
2. ushulul
qur'an.
3. ushulul
figh.
4. qawaidul
figh.
5.
mushthalah hadits dll.
F. Kajian Tematis Komprehensif
Kajian
tematis komprehensi adalah kajian hadis dengan mempertimbangkan teks-teks hadis
lain yang memiliki tema yang relevan dengan tema hadis yang bersangkutan dalam
rangkan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.
(Bukhori no:98) terdapat
hadis
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي
أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ
انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ
الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا
جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا قَالَ
الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا
جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ
(muslim no: 4828 ) terdapat 2 hadis
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ
عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو
بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ
مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا
لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا
فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ
الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا عَبَّادُ بْنُ عَبَّادٍ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح و
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو
أُسَامَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ وَعَبْدَةُ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ سَعِيدٍ ح و حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ
بْنُ عَلِيٍّ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ
هَارُونَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ
عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ جَرِيرٍ وَزَادَ فِي حَدِيثِ عُمَرَ
بْنِ عَلِيٍّ ثُمَّ لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ
فَسَأَلْتُهُ فَرَدَّ عَلَيْنَا الْحَدِيثَ كَمَا حَدَّثَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُمْرَانَ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ
بْنِ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي أَبِي جَعْفَرٌ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ
(Abu Daud no: 3172) hanya ada satu
حَدَّثَنَا
الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ
حَدَّثَنَا سَعِيدٌ يَعْنِي ابْنَ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ
مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَفْتَى ح و حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ
أَيُّوبَ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي نُعَيْمَةَ عَنْ أَبِي
عُثْمَانَ الطُّنْبُذِيِّ رَضِيعِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ سَمِعْتُ
أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ
زَادَ سُلَيْمَانُ الْمَهْرِيُّ فِي حَدِيثِهِ وَمَنْ أَشَارَ عَلَى أَخِيهِ
بِأَمْرٍ يَعْلَمُ أَنَّ الرُّشْدَ فِي غَيْرِهِ فَقَدْ خَانَهُ وَهَذَا لَفْظُ
سُلَيْمَانَ
G. Kajian Konfirmatif
Kajian
konfirmatif adalah mengkonfirmasikan makna hadis dengan petunjuk-petunjuk
al-Qur’an sebagai sumber tertinggi.Belom ditemukan untuk mengkonfirmatikan
terhadap al Qur’an.
Dari pencarian penulis tentang ayat-ayat Al-Qur’anyang membahas
tentang menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu, diantaranya adalah:
Surat Ali Imran ayat: 7
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ
مِنْهُ ءَايَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ
ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ
إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ
مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
Artinya
“Dia-lah
yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu.Di antara (isi) nya ada ayat-ayat
yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat dari
padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal
tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat,
semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran
(daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa)
Ayat di atas
menegaskan bahwa kita dilarang untuk menafsirkan al-Qur’an, dikarenakan hanya
Allah yang mengetahui takwil tentang al-Qur’an tersebut, hanya orang-orang yang
menginginkan timbulnya fitnah dimana-mana yang menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an
dengan tanpa didasari oleh ilmu melainkan hanya dengan ra’yu saja.
Sehingga hanya
orang-orang yang mendalam ilmunya yang diperkenankan untuk menafsirkan
ayat-ayat al-Qura’an agar dapat mengambil pelajaran darinya, sehingga semakin
memantapkan keimanannya kepada Allah.
H. Analisis Realitas Historis
Dalam
tahap ini makna atau arti suatu pernyataan dipahami dengan melakukan kaian atas
realitas, situasi atau problem historis dimana pernyataan sebuah hadis muncul,
baik dalam situasi mikro maupun makro (Asbab al-Wurud mikro atau Asbab
al-Wurud makro).
Asbabul wurud makro:
Setelah
penulis telusuri dari berbagai web dan buku, penulis tidak menemukan sebab
mengapa Nabi mengeluarkan hadis tersebut.
Asbabul wurud makro:
Setelah
melakukan pencarian dari berbagai web dan buku penulis juga tidak mendapatkan
realita yang terjadi pada saat Nabi mengeluarkan hadis tentang larangan menafsirkan
dengan ayat tersebut.
I. Kritik Praksis
Kritik Praksis adalah mengaitkan makna
hadis ke dalam realitas kehidupan kekinian, sehingga memiliki makna praksis
bagi problematika hukum
dan kemasyarakatan kekinian.
Terkadang orang karena sudah
terlanjur dianggap bisa sehingga berani menafsirkan ayat al Qur’an dengan
kemampuannya sendiri tanpa landasan pengetahuan tentang ilmu-ilmu atau
pengetahuan yang harus dikuasai untuk bisa menafsirkan al Qur’an, jika hanya
sekedar menyampaikan tentang isi al Qur’an tidak mengapa, namun jika
menafsirkan dengan tanpa landasan yang tidak boleh bahkan dilarang dengan
ancaman neraka bagi pelakunya.
Seperti halnya yang pernah
terjadi di daerah kulon progo, seseorang yang telah dianggap kyai oleh
masyarakat sekitarnya, disetiap kali dia menyampaikan materi atau bahkan
khutbah jum’at, dia dengan beraninya dengan tenangnya menyampaikan sebuah ayat
al-Qur’an dan hadis yang dia tafsirkan sendiri tanpa ada landasan ilmu sama
sekali, hanya sekedar kemampuan akalnya saja, padahal akal manusia itu memiliki
kemampuan yang terbatas.
Dan setiap kali memberikan
argumen selalu mengatakan kalau dia pernah membacanya di dalam sebuah buku,
namun masalahnya adalah setiap ada yang mau meminjam bukunya untuk membuktikan
apa yang dia katakan benar adanya, ada saja alasannya untuk menghindar sehingga
tidak ada orang yang dapat meminjam bukunya tersebut.
Terkahir yang dia tafsirkan
adalah masalah shalat umat, sehingga membuatnya melakukan shalat jum’at di
rumahnya dengan murid ngajinya dan anak istrinya, padahal masjid itu dekat
adanya dan kurang jama’ahnya.
Hal seperti ini lah yang
membahayakan umat, yang akan menjerumuskan orang-orang yang ada disekitarnya
dikarenakan dia menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an bukan untuk memberikan
pemahaman kepada orang yang masih awam tapi justru malah menjerumuskannya.
J.
Kesimpulan
Ø
Kualitas sanad hadis
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi tersebut di
atas merupakan hadis yang berkualitas hasan sohih dari segi sanad hadisnya,
sehingga hadis di atas bisa digunakan untuk landasan dalam pelarangan kepada
manusia untuk tidak menafsirkan hadis dengan tanpa ilmu yang mendasarinya.
Ø
Pemahaman hadis
Dari hadis di yang tersebut di atas dapat dipahami bahwa
menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an itu boleh, akan tetapi dengan syarat, dalam
menafsirkan ayat Qur’an itu didasari oleh ilmu pengetahuan yang harus
dikuasainya seperti halnya ilmu-ilmu alat dan lain sebagainya. Karena jika
menafsirkan al-Qur’an tanpa didasari ilmu pengetahuan maka hasilnya hanya akan
menimbulkan fitnah dimana-mana.
Daftar Pustaka
Sofwel kitab sembilan Imam/Lidwa
AlQur’an dan terjemahnya



Tidak ada komentar:
Posting Komentar